Pages

Demokrasi Gambar

Pemilu memang menjadi hal yang memikat di Negara ini. Kita memang masih meraba-raba mimpi, yah itulah tawaran demokrasi. Sebuah cita-cita luhur yang terus di suarakan. Betul bangsa ini telah berubah dalam sistem demokrasinya, membolehkan pemilihan langsung untuk legislatif dan eksekutif. Terlebih adanya otonimi daerah yang memungkinkan pemilihan umum di berbagai tingkat struktur daerah. Menghabiskan anggaran yang luar biasa besar untuk sebuah acara demokrasi.

Zaman orde baru politik begitu suram dan menegangkan, tapi saya tidak bahas kebijakan politiknya namun suasana kampanye saja. Waktu itu saya masih SD tapi ingat betul kampanye tak lebih dari atribut partai yang di selebarkan melalui flyer hasil fotokopi di temple di rumah-rumah penduduk (denan paksa), kaos yang dibagikan gratis, spanduk juga media lainnya,  namun di buat dengan teknologi yang sederhana. Tidak ada iklan partai di televise sebab pada waktu itu hanya ada TVRI yang tidak menayangkan iklan. Seiring dengan kemajuan teknologi dan didukung kebijakan politik yang mulai terbuka, kini alat dan media kampanye bagi seorang polotikus yang ingin maju semakin bervariasi, dari muali iklan TV, Koran, website, dan tentunya paling sering kita lihat para politikus memajang wajahnya di pinggir-pinggir jalan. Mengunakan media digital print outdoor, dari ukuran kecil bagi calon pas-pasan hingga ukuran yang tidak terhingga atau minimal memasang baliho di tiap sudut.

Pada musim kampanye dapat dipastikan otak ini akan pusing menerima informasi dari para calon wakil rakyat atau kepala pemerintahan. Ribuan ekspresi wajah di tawarkan memenuhi jalan jalan, di paku di pohon-pohon, ditancapkan di atas bukit, mendadak Negara ini jadi album raksasa. Ke-meriahan wilayah semakin tampak nyata namun kumuh terasa, penempelan alat-alat pengenal calon bertebaran sembarangan. Bak SPG genit, bersolek, merayu orang-orang yang lewat.

Saat ini kandidat masih merasa yakin dengan membuat media peraga berupa baliho, sapanduk, poster, kaos dan media konvensional lainnya dapat memikat audience untuk memilihnya kelak. Desain baliho di buat semenarik mungkin, bahkan bagi kandidat yang sudah sadar dengan citra, mereka mengontrak biro, konsultan, desainer berkelas, menyewa fotografer profesional dalam menangani masalah ini. Tapi bagi calo yang belum faham dan pas-pasan biasanya mereka sudah cukup gembira dengan menempelkan foto hasil bidikan kamera poket, kamera dari handphone, atau merepro dan scan foto yang dianggap paling bagus dan di tempel dalam media-media tersebut.
Rami-ramai menawarkan janji dan tampang yang di poles dengan berbagai gaya seperti, gaya kesolehan sambil mengenakan peci, jilbab, baju koko tak lupa tangan melambai atau merapatkan kedua tangan seperti memberi salam. Lalu di bawah foto terdapat tulisan janji dan slogan, atau singkatan dari pasangan calon. Jangna lupa bahwa tidak hanya gaya kesolehan-solehan yang biasa kita jumpai pada masa kampanye, banyak juga kandidat memasang foto mereka dengan memiliki ekspresi kurang memikat, niat hati ingin berkesan wibawa namu terlihatnya jadi galak, aneh, dan tidak nyambung. Yang jelas kita akan menemukan foto-foto di pinggir jalan dengan wajah asing dan tiba-tiba muncul menawarkan banyak hal.

Ada yang menarik ketika saya melihat sebuah baliho dari seorang yang ingin menjadi anggota dewan untuk tingkat kabupaten. Dalam baliho itu terdapat gambar calon presiden dari partai tersebut dengan porsi gambar lebih besar dan di simpan paling atas seolah menjadi background, lalu gambar ketua umum partai, gambar pipmipnan wilayah, gambar pipmipnan daerah, dan terahir paling bawah dan kecil adalah gambar sang calon itu sendiri. Saya fikir ini lucu dan mengelikan sebab foto si calon itu lebih kecil padahal dia yang harus membayar ongkosnya.

Hal memperihatinkan dari pesta pora ini adalah kesemrawutan, gangguan, dari media peraga kampanye yang mengabil kenyaman masyarakat dan lingkungan, hiruk pikik gambar ini membuat polusi visual bagi masyarkat yang mengunakan fasilitas umum. Begitu sembarangan menemplkan dan menyipan media kampanye justru membuat hilangnya rasa simpatik rakyat pada sang calon. Terlebih jika telah usai gambar tersebut menjadi sampah yang dibiarkan hilang dengn sedirinya, atau merepotkan para petugas ketertibah dan kebersihan untuk membereskan sisa-sisa kampanye. Tapi kandang tidak sampai ahir kampanye baliho-baliho biasanya sudah di kebiri oleh tangan-tangan jahil atau pendukung dari lawan politik yang menyobek, merusak, membakar dll.

Sepertinya para politikus berfikir dengan tampang yang selalu “nyengir” di baliho dan media informasi kampanye akan cukup membuat masyarakat terpesona? padahal rakyat menuntut mereka untuk bekerja dengan baik, menjadi pelayan rakyat sejati bukan dipilih untuk menjadi selebritis dadakan. atau kita akan terjebak dalam demokrasi gambar yang serba dipoles oleh tukang setting photoshop bersambung

Ahmad Nurcholis

No comments:

Post a Comment