Pages

Kesalehan Visual



Suatu hari saya dan istri naik bis kota menuju pasarbaru, tiba-tiba naiklah seseorang ke dalam bis, ia mengenakan peci putih, baju koko terlihat kucel. Kemudian dengan lantang ia meneriakkan “Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh” dengan intonasi K.H. Zainuddin Mz. (alm).

Hadirin yang berada dalam bis kota tidak menjawab, atau ada pula yang menjawab tapi hanya dalam hati. Terasa tidak ada yang menjawab maka ustad bis kota mengulang salam lebih kencang. Terdengar jawaban salam dari beberapa penumpang yang berada di depan dekat sang ustad, itu pun berbarengan dengan kelakson dan injakan pedal gas bis kota yang berumur seperempat abad.
“Menjawab salam itu wajib, dan jika kita tidak melakukannya maka dosa hukumnya sodara-sodara, saya akan ulangi sekali lagi salamnya”
kemudian jawaban juga tidak tertalu banyak dari penghuni biskota, tapi ustad bis tidak mengulang lagi karena mungkin mengingat waktu yang hampir mepet. Ustad itu benar-benar fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran, mengeluarkan hadist, kita akan merasa benar-benar K.H. Zainuddin Mz berada dalam bis (mungkin juga ia mengutip habis ceramah almarhum).

Lalu setelah ia menceramahi jamaah biskota dengan masalah kemiskinan, kesabaran, dan kesenjangan sosial sekitar 5 menit ustad bis menghentikan ceramahnya dan menutup kuliah singkat dengan salam. Menariknya ustad yang berada di depan menjulurkan tas meminta sedekah dari penumpang biskota dari jejeran bangku ke bangku terus ke belakang, ada yang memberi dan tidak, lalu setelah utad melewati kami dan bersiap turun dari bis, saya dan istri terbengong-bengong karen tas yang digendong ustad bergambarkan kartun manga dalam sosok wanita seksi mengerling genit setengah tenajang.

Kesalehan visual
Keinginan untuk menjadi manusia sempurna (baik) tentu menjadi impian, kesempurnaan seseorang baik dalam kehidupan bermasyarakat, hubungan sosial dan linnya, berebit ingin di nilai sempurna. Begitu halnya dalam pemahaman nilai kesempurnaan dalam agama Islam (soleh), perlombaan menuju jalan kebaikan semakin berkobar, pandangan sebagian masyarakat di Indonesia terhadap Islam hanya pada permukaan, pada visual, bentuk, retorika, hanya pada teks tidak menyentuh konteks, ahkhirnya gaya adalah citra sempurunanya keimanan seseorang. Karena kesalehan yang abstark sebagai petanda maka menemukan penanda visual adalah hal paling mudah.

Hal-hal visual, sebagai citra atau sebagai narasi yang berkaitan dengan Arab bagi sebagian masyarakat Indonesia sering di indentikkan dengan Islam. Kecenderungan ini memang wajar karena mayoritas bangsa Arab adalah muslim. Persepsi segala Arab itu Islam dan jika tidak kearab-araban maka Islamnya tidak sah tidak diterima disisi Alloh. SWT, persepsi inilah yang berbahaya, terjadi karena masyarakat tidak memahami secara luas tentang hakikat Islam, maka agama ini hanya bergerak dipermukaan menggali esensi-esensi perwajahan. Padahal Islam sebagai agama yang menjanjikan rahmatan lil alamin tidaklah demikian. Kecuali berurusan dengan masalah ketuhan dan apa-apa yang telah tercantum dalam Al-Quran serta hadist maka selain itu kita bebas untuk bergerak mengabil keputusan. Dalam arti lain asal tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah Islam.

Dengan demikian tidak perlu aneh suatu saat kita memasuki sebuah perkampungan, terdapat sebuah rumah yang menyimpan sobekan-sobekan kertas disimpan di tempat yang istimewa dan ternyata itu adalah sobekan koran berbahasa arab. Huruf-huruf arab yang tercecer dikhawatirkan menjadi berdosa bagi siapapun yang melihat tanpa peduli, bagaimana jika terinjak? Hal itu menjadi rasa was-was tersendiri bagi orang-orang yang percaya terhadap huruf Arab identik dengan Al-Quran.

Dalam surat-surat undangan pernikahan, banyak mengutip ayat-ayat Al-Quran lalu karena takut pamali (sunda:berdosa,terkutuk) jika suatu saat nanti surat undangan itu terbuang di tong sampah, maka penulisannya pun menggunakan teks latin saja. kemudian rasa Pamali itu pun menjadi hilang terlepaslah tanggung jawab, beban, ketika huruf yang tercetak bukan tulisan Arab. Padahal secara bacaan masih sama dengan Tulisan Al-Quran yang berbeda adalah bentuk fisik teks antara Arab dan Latin.

Seolah-olah apapun yang berlebel arab akan masuk pada golongan manusia soleh. Jika Islam yang tidak ngarab tidak betul dan abaikan saja seperti tulisan undangan yang mengkonversi tulisan Al-Quran menjadi latin, terlebih jika melihat ceceran terjemahan Al-Quran dalam bahasa Indonesia, seolah kitab suci ini telah mati tidak memiliki kharisma, mukjizatnya luntur temakan teks latin yang ditinggalkan tuhannya. Maka pemikiran dan persepsi parsial ini memberi dampak yang lebih menghawatirkan jika kita cermati dalam kehidupan sehari-hari.

Siapapun yang bisa fasih membaca Al-Quran, mengeluarkan hadist akan dianggap soleh, Seperti ustad bis kota, apakah kesempurnan seperti itu? Terdapat hal-hal ironi memasuki wilayah tanda-tanda ‘kesalehan’ ala ustad bis kota. Paradaoks visual yang menjadi seolah-olah saleh namun menggendong birahi dalam tas, lisan begitu berwibawa melantunkan ayat-ayat suci, tapi juga emosi karena tidak mendapatkan jawaban salam penumpang yang tengah menikmati kebisingan dalam biskota, juga kejadian seperti ini begitu menyedihkan, ustad bis kota menukarkan ayat-ayat suci dengan sekeping logam untuk menebus makan siang. Pada kasus ustad membenturkan realita dan impian, lebih mengenaskan penumpang mungkin malah mencibir.

Kesalehan visual sering terjadi pada kasus-kasus yang terdapat di pengadilan, lihatlah jika pesakitan (tersangka) yang sedang di sidang mereka berganti wajah menujukan seola-holah “saya sudah tobat” dengna cara mengenakan peci, membawa tasbih, baju takqwa dan lainnya, lalu ketika di wawancara oleh pewarta tersangka berujar ”doakan kami. Ini dalah ujian dari Alloh, insyaalloh kasus ini akan segera selesai”. Bagi tersangka wanita biasanya menggunakan kerudung untuk ‘melipstik’ wajahnya, padahal tadinya tidak, lihatlah kasus Neneng Isteri Nazaruddin tersangka kasus koruspi Hambalang, kini memasuki pengadilan TIPIKOR dengan menutup seluruh tubuhnya alias menggunakan cadar, apakah Neneng bersembunyi untuk menutupi kesalahannnya dan rasa malu atau Neneng kini telah kebali menjadi istri solehah impian Bang Haji Roma? Tidak ada yang tau kecuali dirinya dan tuhan.

Mungkin pernah juga memasuki satu mesjid untuk solat jumat di daerah-daerah pinggir kota biasanya, kemudian ketika sang khotib naik mimbar ia membuka ceramah dari salam pembuka hingga penutup menggunakan bahasa arab, tanpa ada satupun kalimat yang kita fahami artinya. Mungkin hanya beberapa kalimat saja yang familiar. Entah dari mana asalnya khutbah Jumat menggunakan bahasa arab di kampung Indonesia, lalu siapa yang akan mengerti tentang pembicaraan tersebut? Memang jika di simak khutbah jumatnya seperti itu (berbahasa Arab) hanya untuk memenuhi rukun khutbah jumat. Alangkah disayangkan jika moment jumaatan adalah waktu yang sakral, hingga orang-orang berbondong-bondong untuk beribadah, tapi penyanpain khutbah tidak memberi informasi yang jelas karena tidak membicarakan apapun kecualai bahasa asing.

Ahmad Nurcholis

2 comments:

Ima Rochmawati said...

Baca tulisan ini bikin mikiiiirrrrr... tiap paragraf bacanya 2-3 kali, heuheuuu... ampuuun.

hari brahma said...

jigana pami tulisan damri di badan bus pake hurup arab penumpangna pasti muka sendal sapatu heula mun rek numpak teh

Post a Comment