Pages

Harga 10.000 rupiah



Ada banyak nilai dalam uang 10.000 rupiah, tergantung siapa yang menggunakan dan kebutuhannya apa. Sekaligus juga sedikit nilainya atau tak bernilai sama sekali.
10.000 rupiah bisa sangat drastis dibutuhkan, bayangkan pasti kita pernah sibuk mencari uang 10.000 untuk melengkapi pembayaran. Ekstrimnya kebayang beli mobil kurang 10.000 ribu, hehehe. Mungkin dimaafkan sama penjual tapi beungeut weh, hehehe. Semoga saya terhindar dari kejadian seperti ini.

Atau si Mamat dan pacarnya usai menyantap sate, bawa uang hanya 20.000 ribu, padahal harga dua porsi sate Rp 30.000. Mamat salah ambil dompet. Ia ambil dompet yang berisi segala macam surat dan foto , berbentuk tebal bukan yang tipis, padah yang tipis berisi uang 500.000. Jangan tiru mamat yah.

Kembali ke nilai uang 10.000. Pada zaman tulisan ini dibuat tahun 2016, dengan nilai uang sebesar itu bagi yang butuh rokok masih bisa dapat 1 bungkus, tapi bukan rokok yang merek top yah. Bisa dapat makan nasi, daging ayam, sayur dan kerupuk. Jika para pembaca beli di rumah makan kakak saya, kabar baiknya dapat kembalian 2 ribu. Tapi bisa juga dapat makan bubur ayam mas Andri untuk sarapan pagi pas harganya 10.000, awal saya kenal malah 5.000.

Depan rumah saya ada tukang ketoprak jualan pagi sampe jam 12 siang. Dulu harganya 6.000 ribu tapi sekarang jadi 10.000, lalu mas ketoprak pindah ke depan warung mas alfa. Harga ketoprak itu naik bukan karena pindah lapak, tapi memang ikut naik imbas dari isu BBM yang naik.

Uang 10.000 di beberpa daerah memiliki nilai berbeda, silahkan coba makan di warteg Jakarta, jangan di Tegal yah, di Jakarta. Kemungkinan hanya makan telor dan sayur, gak ada kembalian. Entah dapat apa dengan uang 10.000 di daerah Papua, saya tidak tau dan belum pernah ke sana.

10.000 ribu masa lalu

Yah ini tahun 2016 tahun dimana labil ekonomi kesejahteraan fluktualisme menanti ketidakpastian menurut mantannya Saskia Ghotik. Jauh berbeda pada masa 30 tahun silam, sekitar tahun 1986. Saya masih imut, lucu dan polos menggemaskan. Jaman itu saya masih sekolah dasar, saya tidak pernah memegang uang 10.000 walau sering lihat. Sebab saya belum pernah mendapat gaji pada tahun itu, saya masih sekolah SD.

Nah tapi saya ingat betul, saat itu uang 10.000 bisa dapat 2 sak semen. Saya ingat karena sering diajak belanja bahan bangunan untuk mendirikan masjid di kampung kami. Tukang yang bekerja minta rokok jarum super yang harganya 500 rupiah, jabatan dia adalah asisten, dan jiesamsoe 1.000 rupiah untuk tukang yang profesional.

Uang jajan sekolah hanya 100 rupiah, asik banget kan? jajan Cuma bawa cepe perak bisa daptr 1 piring nasi uduk dan satu lembar bakwan, husttt ada kembalian gocap alias 50 rupiah. Biasa buat beli segelas cingcau saat istirahat dan beli permen. Hehehe mantab sekali. tidak ada uang transport, karena desa belum bisa masuk kendaraan dan tidak ada kendaraan, saya hanya jalan kaki ke sekolah jaraknya hanya 327,5 meter atau sekita 7 tiang listrik.

10.000 rupiah pada 30 tahun lalu masa presiden Soeharto berkuasa mungkin nilainya sangat besar. Bahkan tidak bisa dibandingkan dengan uang 100.000 ribu jaman 2016. Makanya banyak orang yang rindu ingin kembali pada jaman pak Soeharto, mungkin karena terjebak masa lalu. Jika saya tahun 1980 bergaji 5juta perbulan, tentu saya  termasuk golongan orang-orang yang beruntung. Tapi saya gak mau kembali ke zaman orba, sebab pak Harto sudah wafat, dia sudah santai jangan dibangunkan lagi, jika kembali berarti gentayangan ini sangat menyeramkan huhuhuhu.

Ada hal yang perlu  di ingat. Zaman orde baru juga harga-harga naik terus secara perlahan. Saya pernah merokok cigarilos semacam cerutu, asik banget kan jajannya. Cerutu sebungkus isi 6 batang. Waktu itu harga perbungkusnya 2.000 ribu. punya uang 10.000 ribu bisa dapt 5 bungkus. Serasa borjuis kampung meroko cerutu, eh tiba-tiba jadi 5.000 ribu perbungkus, mungkin bos cigarilos tau saya suka ngeborong, jadi harganya nek. Entah sekarang berapa harganya. Sampoerna mild awal keluar harganya seribu limaratus perak, sebungkus isi 16 batang, sekarang mungkin 15 ribu atau 20ribu, saya sudah tidak merokok.

Harga-harga naik terus hingga jaman krisis ekonomi jan kejatuhan era orba, tahun 1998 tiba-tiba, barang impor harganya selangit, celana levis yang tadinya lima belas lembar uang sepuluh ribuan jadi harus mengumpulkan uang sebayak seratus lima puluh lembar uang sepuluh ribuan, hehehe kaget kan ? Itu celana disimpan di tempat aman lengakap dengan rante yang melilit pada tiap celana. Khawatir ada yang yolong sih sepertinya.

Nilai tukar rupian terhadap dollar tembus 18.000 ribu per satu dolar. Artinya kalo punya uang 20.000 rupiah belanja di Amerika, Cuma cukup beli permen yang harganya 1 dollar, betapa sengsaranya yah kalo si Mamat pacaran di Amerika hehehe. Seingat saya sempat turun sekitar 2 minggu jadi 6ribu per dolar. Tapi naik lagi stabil di angka 10ribu sampai 11 ribu.

Gerakan reformasi berhasil menurunkan pak Harto sebagai presiden, tapi menaikan segala harga. Sampai sekarang tidak ada harga yang turun, dalam sejarah hidup saya, bahkan pernah bengong melihat harga jengkol perkilonya 90.000 rupiah, besanding engan harga daging yang 120.000. Ingat yah jengkol bukan barang asing, jika di kampung buka pintu dapur pohonnya sudah terlihat, kok bisa naik harganya. Begitu juga cabe keriting, kol, bawang, wah semua sudah naik.

Pipis saat ini sudah 2 ribu, padahal di fasilitas umum yang harusnya gratis. Jadi kalo bawa uang 10ribu bisa pipis 5x. Tenang penjaga toilet biasanya suka ngasih kembalian, bisa sih kasih 1.000 rupiah pasti kamu akan selalu diingat.

Begitulah sejarah perkembangan harga dan nilai tukar rupiah, disamapikan secara singkat dan bersumber dari ingatan yang gak jelas, ini gak boleh jadi data penelitian, skripsi, tesis, atau disertasi, dah pasti ditolak oleh dosen pembimbing.

Arti 10.000

Istri saya membeli palu harga 10.000 rupiah, dan paku beton 3.000 rupiah, untuk memaku keranjang basket.  Nah, apa yang terjadi kira-kira para pembaca yang budiman? Ooh ternyata saat istri saya memaku tembok, palunya copot, hehehe itulah kejadian aneh.  Palu yang baru dibeli copot dan terlepas dari gagang. sungguh ini adalah kejadian luar biasa, semestinya ini menjadi bahan sidak menteri pertahanan dan mentri perindustrian, bahwa kualitas palu yang harganya 10.000 rupiah sudah anjlok tidak bermutu. Berbahaya bagi sistem keamanan dan kenyamanan warga yang profesinya sebagai pemalu, hehehe kok pemalu yah, maksudnya orang yang suka bekerja dengan menggunakan palu sebagai alat bantu kerja. bahayanya bisa melukai diri sendiri dan orang lain jika palu itu terlepas dari tempatnya.

Saya nyengir dulu yah sambil mengingat uang 10.000 yang tertukar menjadi palu lemah letoy. Apakah harga memang sebanding dengan kualitas? Yah sering sih ada istilah “harga mah gak bisa boong” artinya kalo harga mahal kualitasnya baik, kalo harganya murah kualitasnya juga kurang baik. Ungkapan ini jangan terlalu dipercaya, karena bisa jadi tidak begitu, tapi boleh percaya karena bisa jadi betul begitu, pusing yah bacanya hehehe .

Tapi kan ini palu yang secara fungsi didesain untu membenturkan diri dengan paku atau benda keras lainnya, masa sih bikin palu asal nempel doang dengan gagang. Yah begitulah kenyataannya, kualitas asal seperti ini yang bisa menghilangkan nilai-nilai atau kebanggaan pada karya. Menafikan arti sepuluh ribu rupiah sebagai alat tukar yang tak berharga.

Para pembaca dan para pemiarsa yang budiman, mencari uang 10.000 rupiah bukan perkara mudah, silahkan hitung gaji per hari berapa? Terdiri dari berapa lembar uang 10.000? Dan ketika belanja berapa lembar 10.000 yang kita keluarkan untuk berbelanja. Sepuluh ribu rupiah menjadi pelengkap Mamat untuk membayar sate,menjadi tak berarti bagi palu yang letoy, tidak menjadi duaratus limapuluh juta jika kurang sepuluh ribu.


Ahmad Nurcholis

4 comments:

ojegg said...

Dulu di palsukan,sekarang malu malsuin 10.000

ahmad nurcholis said...

Hahahahahahha bener, sekarang ada jasa dari eyang taat pribadi yang lembarannya 100.000 hehehe

Nia Haryanto said...

Sepuluh rebu itu bayaran saya nulis buku per lembarnya di tahun 2010-2012. Alhamdulillah, di Soreang mah, sekarang masih bisa dipakai untuk beli bala-bala, gehu, cireng, combro, dan misro 20 biji. Pleus sambel kacang deuih...

ahmad nurcholis said...

الحمد لله رب العالمين
Waah hebat teh nia mah, kabayang mun sarebu lembar nulisna, mucekilnya. Ayeunamah meureun 50.000 per paragraph jigana nya teh? Hehehe
Di ledengmah 10.000 masih bisa beli pizza, ngan istriku sok namabahan kurangna yah sekitar 110.000 hahahahahahha
Sukses teh

Post a Comment