Pages

Perkedel

Aku dan Alm Bapak sedang makan di rumah kakak di kawasan BSD
setelah sama-sama menjalani akupunktur
Waktu tahun 1980, Raja Salman yang sekarang sepuh berumur sekitar 40. Mungkin lebih atau bisa jadi kurang. Di saat yang sama aku berusia 4 tahun. Lebih atau bisa juga kurang, dalam hitungan masehi. Waktu itu saya baru saja memulai hari-hari masa kecilku di Saudi.

Perlu saya beri fakta, ketika itu Raja Salman belum jadi raja. Sang Raja adalah Fahad, putra dari Raja Abdul Aziz dan seterusnya. Apa pekerjaan Raja? Pastinya jadi Raja. Apakah beliau suka makan perkedel sambil naik mobil sedan sewaktu TK? Aku tidak pernah tahu, dan tidak pernah bertanya.
Sudah kita lupakan itu, aku ingin ceritakan cerita bagus yang lain saja.

Ini tentang roti bakar besarnya segenggam tangan orang dewasa, berisi perkedel jagung dan daging sapi. Rasanya tiada tara, terselip diantara dua lapis roti. Agak gosong lebih nikmat, aroma gandumnya keluar semriwing. Itulah bekal aku saat TK, jika ibu belum memasak di rumah. Jarang masak lebih asik, pikirku. Supaya bapakku lebih sering mampir di toko roti itu.

Aku merupakan anak paling kecil, diboyong pergi menemani bapak kuliah di Madinah. Dengan perjanjian hanya bapakku yang kuliah, sedangkan aku dan ibu menemani saja supaya bapak tidak kesepian dan terhibur. Tapi ingat yah, aku anak dan ibuku adalah istri bapakku itu saja. Artinya kami adalah keluarga.

Kedua kakak tidak dibawa sebab mereka sudah SD dan harus sekolah dengan baik di wilayah Indonesia bagian barat. Di kampung yang belum terjamah perkedel jagung tadi.
Kampung yang aku tinggalkan itu jalannya indah berbalut tanah merah, kadang juga hitam, kalau hujan becek, tidak ada ojek. Tidak ada listrik, banyak pohon besar-besar. Kalau malam sudah pasti gelap gulita, kecuai bulan purnama dan tidak terhalang awan. Maukah kamu tidak tidur dan melongok dari jendela melihat indahnya bulan di kampungku? Itu kondisinya kala itu, tahun 1980 sesudah masehi.

Kembali pada perkedel nikmat, saya bersaksi bahwasannya pertama kali makan roti lapis bakar isi perkedel itu setelah turun dari pesawat, bukan di dalam pesawatnya. Aku turun lah dahulu, lalu kami tinggal di suatu tempat. Dan makanan itu kutemukan.

Nah ternyata tempat itu adalah suatu sudut di kota Madinah, Arab saudi. Jaman itu, jaman bapakku kuliah dan ngontrak rumah bertingkat tiga, bercat kuning kecoklatan. Bersama mahasiswa Indonesia lainnya sekitar 7 orang, mungkin kurang mungkin lebih.

Kamu tahu perkedel itu apa?

Setelah empat tahun tinggal di Saudi aku pulang. Dengan alasan, pertama, bapakku ingin aku sekolah SD di kampung saja, di kampung halaman. Alasan keduanya, kuliah bapakku sudah selesai.
Itu artinya kami sekeluarga harus pamit pada pemilik kontrakan, pada temanku Abdullah dan Abdurrahman, juga teman-teman alumni TK Raudhotul Jannah di kota Madinah angkatan 1984. Oooh berpisah itu menyedihkan. Terutama salam hormat utdzah Aira yang pernah menggantikan celana basahku.

Sampai di Indonesia sungguh aku rindu pada perkedel itu. Aku lelah mencari, juga tidak tau itu jenis makanan apa namanya. Sulit diungkap, tapi ada satu keyakinan suatu saat aku akan menemukannya. Mungkin juga dengan cara aku pergi ke tempat yang sama.

Dua puluh tahun kemudian aku baru menemukan si prekedel nikmat itu di Indonesia, setelah aku kuliah. Sungguh penantian yang lama, seingatku pandangan pertama itu terjadi tahun 2004. Terasa meyakinkan saat aku kunyah betulan.

Baru aku ketahui ternyata jenis perkedel itu adalah nugget. Iya nugget!! Banyak anak-anak suka, tentunya aku juga suka. Dan merasa seperti anak-anak lagi, seperti waktu aku di Madinah, seperti kembali ke masa bapakku memesankan bekal untuk anaknya sekolah...

Ahmad Nurcholis

No comments:

Post a Comment