Pages

Kenapa aku menggambar?


Menggambar bagiku bukan hanya karya seni, tapi juga sebagai garis-garis semangat hidup.


Holisartis merupakan ruang aktifitas berkarya menggambar dan kembali berdaya. Dari tidak bisa menggambar hingga goresannya mirip dengan foto. lebih dari itu semua proses dijalanai ketika dalam keadaan sakit. Menggambar menjadi salah satu media terapi, penyemangat hidup, menemani proses satu persatu pengobatan selama bertahun-tahun. Berikut secuil cerita perjalanan Holis seorang web designer, yang berhubungan erat dengan dunia digital lalu berubah jalur menjadi perupa manual karena tidak bisa bersentuhan lagi dengan alat-alat digital.

Ahmad Nurcholis lulusan desain grafis di UNIKOM tahun 2006. Ia kemudian sempat mengajar di Mercubuana Jakarta, Unikom (Universitas Komputer) Bandung, dan UMN (Universitas Multimedia Nusantara) Serpong. Bidang mata kuliah yang diampu Studio DKV (Desain Komunikasi Visual), Web Desain, Multimedia dan Typografi. Selain mengajar, Holis mempunyai studio desain sendiri bersama teman-teman di salah satu sudut rumahnya. Lalu meneruskan S2 Seni Rupa dan Desain di ITB pada tahun 2013. Namun, karena sakit semua aktifitas ini terhenti pada bulan Januri 2014.

Mengingat kondisi tubuh yang tidak memungkinkan, semua aktifitas mengajar dan kuliah pun berhenti. Waktu digunakan untuk melakukan pengobatan. Baik tubuh maupun psikis tidak memungkinkan untuk beraktifitas seperti biasa.

Aktifitas sehari-hari, dari pagi hingga sore itu paling shalat, mandi, nonton, makan, tidur. Begitu terus setiap hari. Persoalan yang muncul ketika sakit adalah tidak bisa kena udara dingin, tidak dapat berinteraksi terlalu lama dengan banyak orang, meskipun sekedar ngobrol dengan 2-3 orang. Lalu tidak bisa mendengar berita yang terlalu sedih, terlalu gembira, terlalu buruk. Jadi kondisi emosi harus stabil. Kalaupun baca, harus yang ringan-ringan dan banyak melihat visual yang menyenangkan dan tenang. Paling bisa dan cukup lama bisa dilakukan adalah baca Al Quran.

Sampai suatu hari, agar aktifitas kembali berwarna, Holis mencoba menambah kegiatan lain yaitu menggambar di media kertas ukuran kartu pos. Ternyata dia kelelahan. Holis hanya mampu menyelesaikan gambar 1 lembar ukuran kartu pos sampai 2 hari. Baru beberapa garis, berhenti, istirahat, tiduran, begitu seterusnya.

Dalam kondisi sakit, Holis mengerjakan gambar seukuran kartu pos selama dua hari.
Sambil melakukan pengobatan medis dan akupunktur, tubuhnya semakin fit. Terutama masalah mental. Holis mulai mencoba menggambar dasar-dasar menggambar seperti bentuk tangan. Dari ukuran kartu pos, kemudian bertambah ke ukuran A4 lalu bertambah lagi ke ukuran A3. Hampir setiap hari dia bisa menyelesaikan 1 gambar tangan. Gambar-gambar tangan ini, terinspirasi dari puisi ini:

Tangan-tangan malaikat
Berlari seperti hujan
Pada pepohonan yang nyaris tercerabut dari tanah
Menyisakan urat kayu yang hampir layu

Tangan malaikat mendekap erat
Melekat kuat
Mengalir seperti mata air
Menyalurkan nafas
Seperti tawa anak kecil di suatu pagi

Wajah-wajah tulus
Tawa-tawa riang
Dekapan erat
Bermunculan seperti slide
Saat lembar demi lembar rupiah
Melewati loket rumah sakit
Saat tettumbuhan
Mengisi setiap aliran darah kami

Pohon itu
Kini kembali hijau
Bahkan hampir berbuah
#30harimenulispuisi
#day16
@imatakubesar

Di media sosial Instagram, Holis mengikuti tantangan #Inktober2014 pada bulan Oktober 2014. Merupakan tantangan menggambar 1 hari 1 gambar selama bulan Oktober. Gambar-gambar bertema jemari tangan dengan bergagai posisi mulai dikerjakan dari tanggal 1 hingga 20 Oktober 2014. Namun aktifitas ini pun sempat terhenti dan tidak menggambar lagi karena kejang dan drop. Sampai memutuskan untuk melakukan pembedahan benjolan otak di RSCM pada bulan Maret 2015.



Bulan Mei 2015, Holis mulai mencoba kembali menggambar. Rupanya, ketika menggambar abstrak secara mental tidak kuat tapi menggambar drawing realistic photography lebih bisa diterima oleh tubuh dan mental. Dia lebih menikmatinya.

Tiap hari, minggu, bulan, tahun dengan berbagai kondisi fisik yang turun naik. Hasil gambarnya bertambah baik dan menarik. Proses menggambar ini tidak hanya menggantikan kegiatannya di masa lalu, tapi memberi ruang kehidupan baru bagi jiwa dan tubuhnya untuk tetap bergerak, beraktifitas dan kembali berdaya.

Cara belajar menggambar Holis mulai dari nol, dengan mencari berbagai referensi. Dari buku panduan menggambar realis, diskusi dengan beberapa seniman seperti Kang Tisna Sanjaya dan Kang Isa Perkasa, instagram, pinteres yang apresiate terhadap dunia menggambar, juga blog RE Hartanto. Melalui berbagai referensi dan istiqomah itulah, ia mengenal dunia drawing beserta perangkat kebutuhan untuk menggambar. Dari cara mengarsir halus, kasar, dengan berbagai jenis merk dan karakter charcoal.

Drawing realistic photography dengan metode grid, mengikuti cara-cara yang dipaparkan seniman RE Hartanto dalam blognya dilahap habis. Ternyata, tehnik ini jauh membuatnya lebih santai dan konsisten dalam mendalami gambar. Grid atau kotak-kotak juga bisa melatih konsentrasi selain berfungsi sebagai panduan garis supaya gambar lebih mirip dengan foto. Kemudian bisa mengeksplor tehnik-tehnik arsiran, seperti membuat rambut dengan sangat detil, bahkan garis muka dan pori-porinya kadang sangat iseng dibuat untuk terlihat detil.

Alhamdulillah, dengan izin Allah tahapan demi tahapan dilewati cukup lama, tapi terus menerus dijalani. Karena hidup harus terus diperjuangkan.

Salam,
Ima Rochmawati

Ahmad Nurcholis

1 comment:

Unknown said...

Inspiratif sekali... semoga kita semua selalu dalam Lindungan dan Rahmat-Nya.

Post a Comment